Penggunaan AI di Indonesia mencatatkan rekor mencengangkan pada 2026. Berdasarkan data resmi Kementerian Komunikasi dan Digital per Februari 2026, 92 persen masyarakat Indonesia telah memanfaatkan teknologi AI dalam berbagai aktivitas. Bayangkan, dari 10 orang di sekitar Anda—baik di warung kopi, kereta commuter, maupun grup WhatsApp keluarga—9 di antaranya sudah pernah berinteraksi dengan kecerdasan buatan. Angka ini bukan isapan jempol belaka; bahkan Wakil Menteri Nezar Patria pun mengakui ini sebagai sinyal positif adopsi teknologi di tanah air.

Quick Answer

Penggunaan AI di Indonesia didominasi hiburan (36,5%), edukasi dan riset (30,2%), serta pekerjaan (26,9%) menurut APJII 2026. Gen Z menjadi pengguna terbesar (29,4%), sementara 46,6% yang belum memakai AI mengaku tidak mengenal teknologi ini.

Orang Indonesia paling sering menggunakan AI untuk hiburan, seperti membuat video dan gambar generatif. Berdasarkan survei APJII 2026, 36,5% pengguna AI memanfaatkannya untuk hiburan, diikuti edukasi dan riset (30,2%), serta pekerjaan dan produktivitas (26,9%). Gen Z menjadi pengguna AI terbesar dengan 29,4%, sementara 46,6% responden yang belum memakai AI mengaku tidak mengetahui teknologi tersebut.

Tujuan utama penggunaan AI di Indonesia (APJII 2026)

  • Hiburan (membuat gambar/video generatif): 36,5%
  • Edukasi dan riset: 30,2%
  • Pekerjaan dan produktivitas: 26,9%
  • Asisten digital suara: 6,4%

Apa Itu AI (Artificial Intelligence)?

AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan komputer dan mesin untuk meniru kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, bernalar, memecahkan masalah, dan memahami bahasa. Di Indonesia, AI telah digunakan oleh 92% pekerja berbasis pengetahuan untuk berbagai aktivitas mulai dari pencarian informasi, komunikasi, hingga pembuatan konten kreatif.

Angka yang fantastis. Bahkan Menteri pun angkat bicara.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyebut angka ini sebagai sinyal positif bahwa masyarakat Indonesia cukup cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru. Laporan Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn juga menegaskan hal yang sama: 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam pekerjaan sehari-hari mereka

Tapi tunggu dulu. Di balik angka 92 persen yang mengesankan itu, ada pertanyaan besar yang menggelayut: Sebenarnya, warga Indonesia pakai AI untuk apa saja? Apakah angka setinggi ini benar-benar mencerminkan pemanfaatan yang produktif, atau sekadar euforia teknologi sesaat?

Uploaded image

Mari kita bedah tuntas.

Angka 92%: Antara Fakta dan Interpretasi

Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk memahami dari mana angka 92 persen ini berasal. Data ini merujuk pada adopsi AI di kalangan knowledge workers atau pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia. Ini bukan berarti 92 persen dari seluruh 287 juta penduduk Indonesia. Namun, angka ini tetap mencerminkan tingkat adopsi yang sangat tinggi - bahkan di atas rata-rata global

Yang menarik, ada semacam paradoks di sini. Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026 yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) justru menunjukkan angka yang berbeda. Dari 8.700 responden berusia minimal 13 tahun yang tersebar di 38 provinsi, hanya 18,2 persen yang mengaku mengakses atau menggunakan konten AI. Angka ini bahkan turun 27,3 persen pada 2025.

Mengapa beda jauh?

Perbedaannya terletak pada definisi dan metodologi. Angka 92 persen dari Kemkomdigi merujuk pada pekerja berbasis pengetahuan yang menggunakan generative AI dalam konteks pekerjaan. Sementara survei APJII mengukur akses ke konten AI secara lebih luas di seluruh populasi.

Yang lebih mencengangkan: survei APJII juga menemukan bahwa 46,6 persen responden yang belum menggunakan AI mengaku tidak mengetahui teknologi tersebut. Artinya, masih ada setengah dari masyarakat yang belum tersentuh sama sekali oleh revolusi AI.

Tapi bagi mereka yang sudah memakainya—sekitar 18,2 persen dari populasi atau hampir 43 juta jiwa—pertanyaannya adalah: buat apa?

Peta Penggunaan AI di Indonesia: Hiburan Mengguncang Tahta Edukasi

Data APJII 2026 memberikan jawaban yang cukup mengejutkan. Urutan penggunaan AI di Indonesia adalah sebagai berikut:

Tujuan PenggunaanPersentase
Hiburan (membuat video/gambar generatif)36,5%
Edukasi dan Riset (chatbot, ringkasan akademik)30,2%
Pekerjaan/Produktivitas (penulisan otomatis, copywriting, analisis data)26,9%
Asisten Digital Suara/Perintah (Siri, Google Assistant, Bixby)6,4%

Hiburan menjadi tujuan utama. Ini menarik karena trennya berubah drastis dari tahun sebelumnya. Pada 2025, proporsi responden yang mengakses konten AI untuk edukasi dan riset masih mendominasi dengan 43,9 persen. Namun pada 2026, angka ini merosot ke 30,2 persen. Sebaliknya, pengguna AI untuk hiburan melonjak dari 29,5 persen pada 2025 menjadi 36,5 persen pada 2026.

Apa artinya ini?

Bisa jadi masyarakat Indonesia mulai menganggap AI bukan lagi sekadar alat bantu belajar, melainkan bagian dari gaya hidup dan konsumsi konten. AI generatif untuk membuat gambar dan video kini menjadi mainan baru yang digemari. Ini sejalan dengan tren global di mana platform AI generatif seperti ChatGPT dengan fitur pembuatan gambar mengalami pertumbuhan pesat- bahkan Indonesia disebut memimpin pertumbuhan ChatGPT Images 2.0 di Asia.

Pelajari lebih lanjut tentang Loop Engineering AI: Kenapa Developer Mulai Mendesain Loop, Bukan Prompt.

Sementara itu, penggunaan AI untuk pekerjaan dan produktivitas justru naik dari 12,3 persen pada 2025 menjadi 26,9 persen pada 2026. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang menyadari potensi AI untuk membantu pekerjaan - mulai dari penulisan otomatis, copywriting, hingga analisis data.

Yang menurun drastis adalah penggunaan AI sebagai asisten digital suara seperti Siri, Google Assistant, atau Bixby—turun dari 13,5 persen pada 2025 menjadi hanya 6,4 persen pada 2026. Mungkin karena kini orang lebih memilih chatbot generatif yang lebih canggih daripada asisten suara tradisional.

Gen Z vs Milenial: Siapa Paling Gacor dalam Penggunaan AI di Indonesia?

Salah satu temuan paling menarik dari survei APJII 2026 adalah soal pembagian generasi. Generasi Z (usia 13-28 tahun) menjadi kelompok pengguna AI terbesar di Indonesia dengan persentase 29,4 persen.

GenerasiUsiaPengguna AI
Gen Z13-28 tahun29,4%
Milenial29-44 tahun16,7%
Gen X45-60 tahun7,5%
Baby Boomers61-79 tahun0,8%

Data ini menunjukkan bahwa semakin muda seseorang, semakin besar kemungkinannya memakai AI. Dominasi Gen Z tidak lepas dari kedekatan mereka dengan teknologi digital sejak usia muda.

Tapi yang lebih menarik lagi adalah apa yang dilakukan masing-masing generasi dengan AI.

Untuk hiburan, Gen Z memimpin dengan 44,4 persen, diikuti Milenial 34,2 persen, dan Gen X 33,3 persen. Menariknya, Baby Boomers yang memakai AI—meski hanya 0,8 persen—100 persen di antaranya menggunakannya untuk hiburan. Mungkin mereka memakai AI untuk membuat konten kreatif atau sekadar iseng-iseng berkreasi di masa pensiun?

Di Balik Angka: Mereka yang Belum Tersentuh AI

Ada sisi lain dari cerita ini yang tak kalah penting. Dari survei APJII, 81,8 persen pengguna internet Indonesia belum pernah menggunakan AI. Padahal, penetrasi internet nasional 2026 telah mencapai 235,26 juta jiwa atau 81,72 persen dari total populasi. Artinya, sebagian besar orang yang sudah online pun belum menyentuh AI.

Mengapa?

APJII mencatat beberapa alasan utama:

  1. Tidak mengetahui teknologi AI — 46,6 persen

  2. Merasa tidak membutuhkan — 22,7 persen

  3. Belum tahu cara menggunakannya — 15,5 persen

  4. Khawatir privasi dan keamanan data — 3,6 persen

  5. Terbatas akses perangkat — 2,1 persen

Ini adalah tantangan serius. Literasi AI masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Bahkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pun menekankan pentingnya pemerataan literasi AI di seluruh lapisan masyarakat.

AI Sudah Masuk ke Mana Saja? Contoh Nyata di Sekitar Kita

Lalu, untuk apa saja sebenarnya AI digunakan oleh mereka yang sudah mengadopsinya? Mari kita lihat lebih detail.

1. Pencarian Informasi (80%)

Ini adalah penggunaan paling dominan. Survei menunjukkan 80 persen responden menggunakan AI untuk mencari informasi. Tidak heran, chatbot seperti ChatGPT, Google Gemini, dan DeepSeek menjadi andalan. Bahkan, laporan menyebut lebih dari sepertiga warganet Indonesa sudah rutin menggunakan platform AI seperti itu setiap bulan.

2. Komunikasi dan Terjemahan (70%)

AI membantu menerjemahkan bahasa, menulis pesan, atau bahkan menyusun email profesional. Ini sangat berguna di era globalisasi di mana komunikasi lintas bahasa semakin sering terjadi.

3. Membantu Pekerjaan/Tugas (68%)

Hampir 7 dari 10 pengguna AI memanfaatkannya untuk membantu pekerjaan atau tugas. Mulai dari menyusun laporan, menganalisis data, hingga membuat presentasi. Bahkan untuk copywriting dan penulisan otomatis, angkanya mencapai 26,9 persen.

4. Hiburan dan Kreativitas (60%)

Membuat gambar dan video generatif kini menjadi aktivitas yang digemari. Platform seperti Canva bahkan meluncurkan kampanye AI pertama di indonesia untuk mendorong kreativitas.

5. Navigasi dan Perjalanan (49%)

Hampir setengah pengguna AI memanfaatkannya untuk navigasi dan perjalanan. Grab, misalnya, meluncurkan 13 fitur berbasis AI di GrabX 2026 untuk membantu transportasi, pengiriman makanan, dan pembayaran.

6. Belanja dan Rekomendasi (3%)

Ini yang paling rendah. Mungkin karena orang Indonesia masih lebih percaya rekomendasi dari teman atau influencer daripada dari AI.

Kasus Nyata: Tiga Generasi, Satu AI

Antara News mewawancarai tiga orang dari generasi berbeda yang semuanya memanfaatkan AI dalam keseharian.

Arief (47 tahun), karyawan swasta di Bogor, awalnya minder melihat konten anak muda yang kreatif. Tapi setelah tahu ada aplikasi AI untuk menulis, ia tinggal mengetik poin-poin yang diinginkan dan draf caption langsung jadi. "AI telah memangkas waktu berpikir saya," ujarnya.

Laela (45 tahun), karyawan administratif di universitas, merasakan beban kerjanya berkurang drastis setelah memakai AI untuk menyusun laporan dan surat-menyurat

Kisah mereka menunjukkan bahwa AI bukan lagi teknologi eksklusif untuk anak muda atau kalangan IT. AI sudah membumi dan digunakan oleh berbagai latar belakang usia dan profesi.

Organisasi vs Individu: Kesenjangan yang Mengkhawatirkan

Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya mengungkapkan bahwa dalam penggunaan AI di Indonesia, meski 92% individu sudah menggunakannya, adopsi di tingkat organisasi baru 47%.

Ini adalah paradoks yang mengkhawatirkan. Masyarakat cepat mengadopsi teknologi, tetapi institusi dan organisasi masih tertinggal. Akibatnya? Indonesia cepat mencoba teknologi, tetapi belum siap mengelola secara optimal.

Prof. Trianggoro juga menyoroti fenomena cognitive offloading-ketergantungan pada AI yang berpotensi menurunkan kemampuan analitis dan nalar kritis manusia. Risiko penyalahgunaan AI juga meningkat, termasuk fenomena deepfake diruang digital.

Pesan pentingnya: "AI tidak akan menggantikan manusia. Manusia yang menggunakan AI akan menggantikan yang tidak".

Penutup: Antara Angka dan Makna

Jadi, 92 persen warga RI pakai AI—tapi buat apa saja?

Jawabannya: untuk hiburan, edukasi, pekerjaan, dan segalanya di antaranya. Dari membuat gambar kocak untuk status WhatsApp sampai menganalisis data bisnis, AI telah menyusup ke berbagai aspek kehidupan.

Tapi di balik euforia angka, ada pekerjaan rumah besar: masih ada 46,6 persen masyarakat yang bahkan tidak tahu apa itu AI. Ada kesenjangan antara individu (92%) dan organisasi (47%). Ada risiko ketergantungan dan penurunan kemampuan berpikir kritis.

AI bukan lagi teknologi masa depan. AI adalah teknologi masa kini. Tinggal bagaimana kita—sebagai individu, sebagai organisasi, sebagai bangsa—memilih untuk memanfaatkannya. Apakah hanya sebagai konsumen pasif, atau sebagai inovator yang menciptakan nilai?

Seperti kata Nezar Patria: "Kesenjangan masa depan bukan hanya antara mereka yang terhubung dan yang tidak, tetapi antara mereka yang mampu menggunakan AI secara produktif dan mereka yang tertinggal dalam transformasi".

"Pilihan ada di tangan kita. Masa depan penggunaan AI di Indonesia ditentukan oleh seberapa bijak kita menyikapi teknologi ini—sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar manusia."

FAQ: Jawaban atas Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu AI (Artificial Intelligence)?

AI atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan mesin untuk meniru kemampuan manusia seperti belajar, bernalar, dan memecahkan masalah. Contohnya chatbot, asisten virtual, dan generator gambar.

Apakah benar 92% warga Indonesia pakai AI?

Angka 92% merujuk pada pekerja berbasis pengetahuan ( knowledge workers ) yang menggunakan generative AI, berdasarkan data Microsoft dan LinkedIn. Ini bukan 92% dari seluruh populasi Indonesia .

Berapa persen masyarakat Indonesia yang benar-benar mengakses AI?

Berdasarkan survei APJII 2026, sekitar 18,2% responden (atau 43 juta jiwa) mengaku mengakses konten AI .

Orang Indonesia paling sering pakai AI untuk apa?

Untuk hiburan (36,5%), seperti membuat video atau gambar generatif .

Generasi mana yang paling aktif pakai AI di Indonesia?

Generasi Z (usia 13-28 tahun) dengan persentase 29,4% .

Mengapa banyak orang Indonesia belum pakai AI?

Alasan terbesar: tidak mengetahui teknologi AI (46,6%) dan merasa tidak membutuhkan (22,7%) .

Apa itu generative AI?

AI yang bisa menghasilkan konten baru seperti teks, gambar, video, atau musik berdasarkan data yang dilatih. Contoh: ChatGPT, Google Gemini, DeepSeek.

Apakah AI berbahaya?

AI bisa berbahaya jika disalahgunakan—misalnya untuk deepfake atau penyebaran hoaks. Namun jika digunakan secara bertanggung jawab, AI sangat bermanfaat .

Bagaimana cara mulai belajar AI?

Mulai dari mencoba aplikasi AI gratis seperti ChatGPT atau Google Gemini, lalu pelajari cara membuat prompt yang efektif. Banyak tutorial di YouTube dalam bahasa Indonesia.

Apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia?

Prof. Trianggoro mengatakan: "AI tidak akan menggantikan manusia. Manusia yang menggunakan AI akan menggantikan yang tidak" .

Apa itu AI Talent Factory?

Program dari Kementerian Komunikasi dan Digital untuk melatih generasi muda Indonesia mengembangkan solusi berbasis AI .

Berapa pertumbuhan penggunaan AI di Indonesia?

Penggunaan Codex (AI untuk coding) di Indonesia tumbuh 12 kali lipat sejak awal 2026, lebih tinggi dari pertumbuhan global 8 kali lipat .

Apa saja sektor yang akan diregulasi AI di Indonesia?

10 sektor: ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan keuangan, reformasi birokrasi, politik, hukum, dan keamanan .

Apakah AI bisa meningkatkan ekonomi Indonesia?

Pemerintah memperkirakan AI bisa meningkatkan GDP Indonesia hingga 12% atau US$366 miliar pada 2030 .

Bagaimana cara menggunakan AI secara bijak?

Gunakan AI untuk meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir kritis. Selalu verifikasi informasi dari AI dan jangan percaya begitu saja .

Apa itu AI agent?

AI agent adalah sistem AI yang bisa bertindak secara otonom untuk menyelesaikan tugas tertentu, seperti asisten virtual yang bisa memesan makanan atau mengatur jadwal.

Berapa pengguna internet di Indonesia 2026?

235,26 juta jiwa atau 81,72% dari total populasi 287,89 juta jiwa .